Ibu Hamil di Daerah Pengungsi Sebaiknya Dipisah

Jakarta, Kondisi Gunung Merapi yang masih belum stabil dan letusan masih terus terjadi, memaksa banyak penduduk sekitar Merapi harus mengungsi. Dari sekian banyak pengungsi, kesehatan ibu hamil harus mendapatkan perhatian khusus. Dokter kandungan menyarankan sebaiknya ibu hamil tidak digabung dengan pengungsi lain.

"Kondisi Merapi yang menyemburkan awan panas dan hujan abu adalah yang paling ditakutkan pada kondisi ibu hamil," ujar dr Frizar Irmansyah, SpOG, dokter spesialis ginekologi dari RS Pusat Pertamina saat dihubungi detikHealth, Jumat (5/11/2010).

Menurut dr Frizar, hujan abu Merapi yang terhirup oleh ibu hamil bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, baik pada ibunya maupun bayi yang dikandungnya.

"Kalau ibunya mengalami gangguan pernapasan dan kekurangan oksigen, otomatis juga berdampak pada bayinya. Bila sirkulasi aliran darah ke bayi berkurang, jelas bisa menghambat pertumbuhan bayi, kalau dibiarkan terus bisa menyebabkan kematian bayi," jelas dr Frizar lebih lanjut.

Selain abu vulkanik, dr Frizar juga menyarankan beberapa hal untuk dapat menjaga kesehatan ibu hamil di daerah pengungsian, yaitu:

1. Ibu hamil sebaiknya tidak digabungkan dengan pengungsi lain
"Memang dilema ya, karena mereka kan nggak punya pilihan lain. Tapi sebaiknya kalau bisa ibu hamil dan anak-anak tidak digabungkan dengan pengungsi lain karena mereka sangat rentan tertular penyakit," jelas dr Frizar.

Banyaknya pengungsi membuat ibu hamil sangat rentan tertular penyakit dari pengungsi lain, jadi sebaiknya ibu hamil dan anak-anak yang rentan tertular penyakit disediakan tempat khusus di daerah pengungsian.

2. Selalu pakai masker
Efek abu vulkanik tidak hanya membahayakan diri ibu hamil sendiri, tetapi juga bayi dalam kandungannya. Gas-gas beracun yang terkandung dalam abu vulkanik dapat sangat membahayakan pernapasan.

"Risiko bayinya bisa terhambat dan paling berat menyebabkan kematian bayi dalam kandungan," jelas dr Frizar.

3. Jaga kebersihan lingkungan pengungsi
Kebersihan lingkungan, sanitasi dan kebersihan makanan juga harus diperhatikan pada pengungsi, terutama bagi ibu hamil yang harus menganggung dua nyawa sekaligus.

"Faktor-faktor kebersihan ini sangat berpengaruh pada penyebaran dan penularan penyakit, terutama diare. Diare yang berat bisa berakibat fatal pada ibu hamil," jelas dr Frizar.

4. Butuh pendampingan
Stres juga merupakan faktor yang membahayakan kesehatan ibu hamil. Stres karena kondisi mengungsi atau karena kehilangan anggota keluarga bisa menyebabkan ibu hamil mengalami kelahiran prematur. Untuk itu, sebaiknya berikan pendampingan khusus pada ibu hamil di daerah pengungsian.

5. Kebersihan organ kelamin
Tidak hanya kebersihan lingkungan, ibu hamil juga harus memperhatikan kebersihan organ kelamin saat berada di daerah pengungsian.

"Ibu hamil perlu menjaga kebersihan badan secara keseluruhan, tapi diutamakan kebersihan organ kelamin. Penyakit-penyakit kelamin seperti jamur dan lainnya bisa menyebabkan komplikasi pada kehamilan, terutama bisa menyebabkan infeksi selaput ketuban. Kondisi ini bisa menyebabkan ketuban pecah sebelum waktunya," jelas dr Frizar.

6. Asupan makanan
Yang tak boleh dilupakan juga asupan makanan bagi ibu hamil. "Kondisi di pengungsian biasanya memang tidak memungkinkan bagi ibu hamil untuk mendapatkan asupan makanan yang bergizi. Tapi sebaiknya konsumsi mi instan berlebihan pada ibu hamil. Usahakan ibu hamil mendapatkan makanan yang bergizi selama di pengungsiam," tutup dr Frizar.
Ibu Hamil di Daerah Pengungsi Sebaiknya Dipisah
Item Reviewed: Ibu Hamil di Daerah Pengungsi Sebaiknya Dipisah 9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.
Emoticon? nyengir

Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #ThinkHIGH! ^_^

Komentar Terbaru

Just load it!