Jakarta - Grup Kerjasama Bilateral Dewan Perwakilan Rakyat berkunjung ke Kuba beberapa hari lalu. Kunjungan dalam rangka 50 tahun Hubungan Persahabatan Indonesia – Kuba ini dalam rangka meningkatkan kerjasama bilateral kedua negara.
Pembukaan hubungan diplomatik kedua negara terjadi pada tanggal 22 Januari 1960 saat Che Guevara berkunjung ke Indonesia (Borobudur) pada tahun 1959 dan disusul kunjungan balasan Presiden Soekarno pada tanggal 9-14 Mei 1960 yang merupakan kepala negara asing pertama yang mengunjungi Kuba setelah kemenangan Gerakan Revolusi.
Delegasi DPR terdiri dari 8 (delapan) Anggota DPR RI yang dipimpin oleh Ir H Daryatmo Mardiyanto (F-PDIP) sebagai Ketua Delegasi dan Venna Melinda, SE sebagai Wakil Ketua Delegasi serta disertai Anggota Delegasi yaitu Ir Bahrum Daido, M Si (F-PD), Ir H Azam Azman Natawijana (F-PD), Ir HM Idris Laena (F-PG), Rieke Diah Pitaloka, M Hum (F-PDIP), Drs H Abdul Hakam Naja, M Si (F-PAN) dan Drs H Nu’man Abdul Hakim (F-PPP).
Dalam rangka second track diplomacy untuk meningkatkan kerjasama bilateral antara kedua negara serta mempertajam sasaran kunjungan, terutama peningkatan kerjasama bilateral di bidang pertambangan, energi dan mineral serta di bidang kesehatan, delegasi ini juga mengikutsertakan beberapa instansi Direktorat Jenderal Mineral, Batubara dan Panas Bumi (Minerbapabum) yang diwakili oleh Bambang Setiawan (Dirjen Minerbapabum) dan Chairul Anwar Djalil, PT Aneka Tambang, yang diwakili oleh Hari Widjajanto dan Bimo Budi Satriyo dan Kementerian Kesehatan yang diwakili oleh drg. Kamaruzzaman, M.Sc.
Dalam laporan kunjungan yang didapatkan VIVAnews hari ini, Rabu 3 November 2010, Kegiatan yang dilaksanakan antara lain adalah melakukan kunjungan ke Poliklinik Tomas Romay.
Poliklinik ini melayani seluruh warga Kuba dengan membebaskan biaya pelayanan dan dengan harga obat yang sangat murah. Poliklinik tersebut memiliki 16 dokter keluarga (family doctor) dan dapat melayani 31.000 warga Kuba. Selain dokter umum, di Poliklinik ini juga terdapat dokter spesialis untuk melayani pasien.
Terdapat 2 (dua) prinsip pelayanan kesehatan masyarakat di Kuba yaitu akses yang mudah untuk seluruh masyarakat tanpa adanya perbedaan pelayanan serta bebas biaya pelayanan kesehatan.
Tim juga berkunjung ke el Centro de Ingeniería Genética y Biotecnología (CIGB)/ Pusat Rekayasa Genetika dan Bioteknologi. Pada kunjungan ke CIGB ini Delegasi memperoleh kesempatan untuk mengetahui tingkat kemajuan Kuba di bidang Rekayasa Genetika dan sumbangannya bagi dunia kesehatan. Produk-produk telah mendapat pengakuan dari dunia internacional.
Pada tahun 1960, Infant Mortality Rate Kuba adalah sebanyak 37,3 % dengan Live Expectancy 64 tahun, sementara pada tahun 2009, Tingkat Infant Mortality Rate sudah turun sampai dengan 4,7% dan Live Expectancy yaitu 77,9 tahun.
CIGB telah berhasil mengembangkan Heberprot – P atau vaksin untuk diabetes dengan tingkat Total Granulation Complete Healing (tanpa amputasi) sebanyak 59 %. Sampai saat ini pihak Kuba masih membuka kesempatan bekerja sama dengan Indonesia di bidang Penyediaan obat-obatan dan pelayanan kesehatan.
Selain melakukan kunjungan ke instansi-intansi tersebut, KBRI Havana – Kuba beserta dengan GKSB DPR RI – Parlemen Kuba juga mengadakan Seminar dengan tema “Prospek Peningkatan Hubungan Bilateral antara Indonesia dan Kuba.” Seminar secara resmi dibuka oleh Duta Besar RI untuk Kuba, Banua Radja Manik dan Ketua Grup Persahabatan Antar Parlemen Kuba – Indonesia, Luis Manuel Castañedo Smith.
Dalam seminar tersebut, Indonesia dan Kuba sepakat mengenai besarnya potensi kedua negara untuk dikembangkan dalam suatu kerjasama yang saling menguntungkan di berbagai sektor, antara lain sektor kesehatan, bioteknologi, pertanian, industri gula, pendidikan, Energi dan sumber daya mineral, pemuda dan olah raga, kebudayaan dan pariwisata.
Beberapa catatan atau kesimpulan yang bisa ditarik dari seminar dan working table ini bagi pelaksanaan kerjasama ke depan adalah:
a. Bidang kesehatan antara lain disampaikan keinginan pihak Kuba untuk menindaklanjuti letter of intents di bidang kesehatan yang ditandatangani tahun 2007 dengan MoU bidang kesehatan serta mengidentifikasi beberapa hal pada LoI dan Agreed Minute Sidang ke-5 Komisi Bersama Indonesia-Kuba yang perlu dikoreksi.
b. Bidang Olahraga, Pendidikan dan Kebudayaan sepakat untuk semakin meningkatkan kerjasama yang selama ini telah terjalin dengan baik, dan segera menindaklanjuti beberapa pending matters yang masih menjadi kendala. Parlemen Indonesia dan Kuba akan mendorong pemerintah masing-masing untuk mewujudkan tiga kerjasama yang saat ini sangat memungkinkan untuk dilaksanakan, yaitu: di bidang pendidikan, terdapat pertukaran mahasiswa di bidang kedokteran dan bioteknologi; di bidang olahraga terdapat saling bantu dalam pertukaran pelatihan olahraga unggulan di masing-masing negara, yaitu cabang bulutangkis dari Indonesia dengan cabang olahraga tinju, voli dan atletik dari Kuba; terakhir di bidang kebudayaan, kedua parlemen akan mendorong upaya pertukaran insan budaya dalam berbagai cabang seni seperti musik, tari, seni rupa dan bentuk kerjasama kebudayaan lainnya.
c. Di bidang Energi dan Sumber Daya Mineral kedua pihak sepakat sebagai langkah awal menjalin kerjasama di bidang pengolahan nikel berkadar rendah. Di bidang ini Kuba memiliki pengalaman yang memadai. Di sisi lain, pihak Indonesia menawarkan untuk membangun proyek kerjasama di bidang pengolahan ferro nikel.
d. Di bidang gula dan pertanian, kedua pihak saling bertukar pandangan dan pengalaman dalam pengelolaan industri gula dan tebu. Kuba telah mulai mengarahkan industri tebunya untuk tidak hanya menghasilkan gula tetapi juga produk-produk turunan gula seperti etanol untuk bahan bakar. Dalam hal ini, Kuba menawarkan kerja sama penelitian bersama atau pertukaran tenaga ahli dengan Indonesia, sebagaimana telah dituangkan dalam MoU Kerja Sama Bidang Gula, untuk memanfaatkan potensi produk-produk turunan gula.
0 komentar
Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #ThinkHIGH! ^_^