Seorang pedagang sepatu di Cibaduyut Asep Dedi mengatakan, China bisa membuat sepatu tiruan yang harganya jauh lebih murah.
"Produk dari China bisa membuat sepatu yang harga aslinya Rp 400 ribu menjadi hanya Rp 35 ribu. Namun produk itu tidak memperhatikan kenyamanan para konsumennya," jelas Asep saat ditemui di tokonya, Cibaduyut, Sabtu (9/4/2011).
Menurutnya, sepatu dari China menggunakan bahan yang tidak menyerap keringat kaki. Sehingga tidak nyaman bagi pemakainya. "Produk Cina gunakan bahan yang kurang nyerap keringat kaki," kata Asep.
Di tempat yang sama, pelaku sepatu Cibaduyut lainnya yakni Gun Gun Runiadi mengatakan industri sepatu Cibaduyut kini juga menggunakan mesin-mesin bekas dari China.
"Teknologi yang dijual di Indonesia adalah teknologi dari China, teknologi keberapa itu, mungkin yang sudah tidak digunakan di sana," kata Gun Gun.
Untuk masalah penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk sepatu, Gun Gun mengatakan, sangat mendukung usaha pemerintah. Gun Gun juga mengatakan SNI bisa membantu melindungi usaha dalam negeri dari serbuan produk impor.
"Saya sangat sepakat (mengenai SNI), ini untuk perlindungan pekerja," tuturnya.
Di sisi lain, usaha yang dikembagkan Gun Gun masih terkendala masalah penetapan SNI. Penerapan SNI masih cukup sulit untuk dikembangkan di industri kecil
"Belum SNI, masih mentok," tukasnya.
(dnl/dnl)
0 komentar
Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #ThinkHIGH! ^_^