Hal tersebut disampaikan GM Sales PT Proton Edar Indonesia Mazlan Mohd Zain kepada beberapa media beberapa waktu lalu.
Menurutnya agar menguntungkan dan bisa membangun pabrik, penjualan Proton di Indonesia harus mencapai minimal 10.000 unit per tahunnya.
"Kalau sudah 10.000 unit baru kita proposed," ujarnya.
Karena membangun pabrik masih sulit, Proton bisa saja menggandeng perusahaan lokal untuk membuat joint venture di sini.
Dibanding membuat pabrik sendiri, membuat joint venture dari sisi dana lebih murah. Sisi bagusnya, Indonesia bisa memiliki merek mobil sendiri dan tidak perlu menggunakan nama Proton.
"Saya pikir sebenarnya Indonesia bisa bangun mobil sendiri, tenaga ahlinya sudah sudah ada, pabriknya sudah ada, jadi mungkin kita pikir joint venture. Investasinya gak begitu gede tapi kita bisa buat merek buatan Indonesia. Enggak perlu namanya Proton, itu bisa kalau kita ketemu partner yang sesuai," ujarnya panjang lebar.
Wah ada yang tertarik tidak ya?
( ddn / ddn )
0 komentar
Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #ThinkHIGH! ^_^