BERLIN --Di tengah masa suram akibat ketidakpastian penyelesaian utang pemerintah Yunani, muncul wacana dari negara sesama anggota Uni Eropa untuk mengampuni separuh utang Yunani tersebut. Pengampunan utang dinilai jauh lebih baik ketimbang harus menyuntikan dana dari para pembayar pajak di Eropa untuk melunasi utang dan membayar gaji pegawai negeri sipil Yunani.
"Yunani itu sudah bangkrut. Kemungkinan tidak ada jalan lain bagi negara (anggota Uni Eropa) lainnya selain menerima pengampunan 50 persen atas utang (Yunani)," ujar Deputi Pemimpin Parlemen Jerman asal Partai Kristen Demokrat (pendukung Kanselir Angela Merkel), Michael Fuchs di Berlin, Senin (3/10/2010) atau Selasa pagi WIB. Fuchs mengungkapkan hal tersebut kepada surat kabar Rheinische Post newspaper dan dikutip kantor berita Reuters.
Seperti diketahui, utang pemerintah Yunani saat ini sudah setara 161,8 persen Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Namun, jika defisit APBN Yunani tahun 2011 melonjak dari 7,6 persen (target defisit yang dikehendaki program penyuntikan dana Uni Eropa dan IMF) menjadi 8,5 persen, sesuai laporan resmi pemerintah Yunani, maka rasio utang mereka membengkak menjadi 172,7 persen.
Sementara itu, Kepala International Institute of Finance (IIF), yang melakukan negosiasi atas program pertukaran obligasi secara sukarela ("voluntary" bond-swap), Josef Ackermann memperingatkan akan adanya perubahan. "Voluntary" bond-swap ini sendiri merupakan bagian dari rencana suntikan dana kedua untuk menolong perekonomian Yunani.
"Jika kita membuka kembali kesepakatan sukarela yang diambil 21 Juli 2011, kami tidak hanya akan kehilangan waktu yang sangat berharga tetapi juga kemungkinan hilangnya dukungan investor swasta," ujarnya kepada surat kabar harian Yunani, Kathimerini, seperti dikutip Reuters.
Sebelumnya, para pemilik obligasi Yunani menyetujui untuk mengampuni 21 persen utang negara tersebut, namun pejabat Uni Eropa dan Jerman menyarankan agar pemangkasan tersebut diperbesar. Sikap Uni Eropa dan Jerman ini menjadi pertanda bahwa akan ada kekurangan pada pendanaan Yunani dan perubahan kondisi pasar. (OIN)
0 komentar
Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #ThinkHIGH! ^_^